Senin, 13 Desember 2021

Indahnya Mencurahkan Isi Hati Melalui Puisi



 


Menurut Jannati, apakah puisi ampuh untuk mencurahkan isi hati yang terdalam? Walaupun iya, tetapi saat ini sudah jarang yang mendalami seni berpuisi. Oleh karena itu, dalam sesi Book Review di hari jumat, 27 Agustus 2021. TJI berkesempatan menghadirkan salah satu penulis buku kumpulan puisi yang berjudul; 99° Celsius. Simak cerita dibalik pembuatan bukunya, yuk!


Pemateri sesi Book Review kali ini adalah Rindi Wulandari, yang merupakan alumni kelas IG dan Ps for Mom batch 6. Ia bercerita tentang buku solo kumpulan dari puisi ciptaannya. Alasannya untuk membuat buku kumpulan puisi karena sebagai media untuk mencurahkan isi hatinya semenjak di bangku sekolah dahulu.

Poster TJI Book Review - 99° Celsius


Lebih tepatnya, kak Rindi menuturkan bahwa The Jannah Institute adalah salah satu jembatan untuk dirinya mencoba menulis lagi, karena sudah cukup lama ia tidak menulis, namun setelah mengikuti kelas Instagram yang dimentori oleh kak Prita, selaku pendiri TJI,Akhirnya kak Rindi  memulai kembali mencicil menulis. 



 Awalnya untuk caption Instagram, lalu mengikuti kelas menulis antologi, sampai akhirnya mencoba untuk ikut membuat buku solo ini (read: 99° Celsius)


Cover Buku 99° Celsius


Menurut kak Rindy, di jaman sekarang mungkin sudah jarang sekali menemukan orang yang suka membaca puisi, tetapi bagi pribadi kak Rindy sendiri, puisi seperti sesuatu yang tidak bisa hilang, bait demi bait nya mampu mencurahkan segala hal yang bergejolak di dalam dada. 



Lalu, kak Rindi menambahkan bahwa proses untuk seorang penulis baru yang tidak memiliki latar belakang sebagai penulis tidaklah mudah. Namun, harapan besar yang ia miliki membuatnya berhasil menghadirkan satu buku yang keseluruhan isinya adalah puisi buatannya sendiri. 



Di setiap bait puisi yang dituliskan kak Rindi, tercurahkan rasa suka, duka, maupun bahagia yang pernah ia rasakan. Serta dituliskan di waktu dan tempat yang berbeda. Semua ini berawal  dari ia tinggal di Sidoarjo, lalu melakukan perjalanan menuju Bandung, Bandung ke Jakarta, hingga perjalanan dari Jakarta menuju Sumatera Barat. 



Pada awalnya, kak Rindi berpikir bisa menyelesaikan buku puisi ini saat masih berada di Sidoarjo, namun takdir berkata lain ketika ia dan suami harus kembali ke kampung halaman mereka, Sumatera Barat, yang membutuhkan perjalanan cukup panjang karena beberapa kepentingan. Disaat itu kak Rindy memanfaatkan waktu untuk mencicil bait-bait dalam buku ini.


Perjalanan buku puisi ini cukup panjang seperti halnya dalam kisah yang tertuang disana, bahkan kak Rindy hampir menyerah dan tidak yakin untuk menyelesaikan tulisan ini. 


Namun keberuntungan masih berpihak kepada kak Rindi, dalam masa-masa isolasi mandiri di awal juli kemarin ia kembali diberi kesempatan untuk menyelesaikan tulisan ini, rasa sakit disaat itu memberinya semangat dan ide-ide lebih luas hingga kak Rindy mampu menyelesaikan total 99 puisi. 


Buku puisi tersebut berisikan suka-duka kehidupan, inspirasi, semangat dan tentang indahnya kuasa Allah SWT. Hal ini menunjukan bahwa tidak selamanya puisi itu alay dan lebay, kenyataannya kak Rindi mencoba memberi persepsi lain bahwa puisi adalah salah satu media penyampaian isi hati yang mungkin akan sampai ke hati para pembacanya. 


Berikut adalah daftar kumpulan puisi dari buku 99° Celcius - Kelana Semesta, yang terdiri dari 9 sub-bab judul yang masing-masing babnya terdapat 11 puisi, yaitu:

  1. Skala Cinta: Anugerah Terindah, Kisah Sebuah Langkah, Kasih Ukhuwah, Permata        Wanita, Selamat Datang Cita, Cinta Pertama, Seberkas Cinta, Janji Suci, Dekapan Mawaddah, dan Sabda Cinta. 

  2. Titik Beku Penantian: Janji Hari Jejak Eksistensi, Jerat Lusi, Gadis Penakluk, Sebaris Perjalanan Usia, Hanya Angan, Ujung Takdir, Asa, Bilamana, Tetes Pengharapan, dan Perjumpaan Rasa

  3. Titik Didih Kerinduan: Cahaya Jingga, Denting Senja, Tautan Hati, Cinta di Bersenja, Ratap Dini Hari, Seberkas Kerinduan, Detik Detakkan Rindu, M Rab Rindu, Bukan Lusi, Debur Luka, dan Bulir kerinduan

  4. Konversi Rasa: Semua berbeda, Pagi Bulan Oktober, Menempa Sukma, Lentera Malam, Sejuta Warna Cinta, Biduk Sunyi, Selaksa Luka, Kisah Penerbangan, Renungan Diri, Luka Hati, dan Akhti Indah 

  5. Cuaca Hati: Sudut Kota, Topeng Jiwa, Layang Asa, Rona Bianglala, Teater Patah Hati, Pengaduan dalam Doa, Bangkit, Gemuruh Kalbu, Pencarian Jati Diri, Risau, dan Ratap

  6. Dinginnya Asa: Apa Itu cinta, Luluh Lantah, Meramu Jiwa, Wayang Sunyi, Perempuan di Tanah Sunyi, Hujan di Sudut Kisah, Sebentuk Hati yang Berani, Semu di Ujung Senja, Harap, Jumpa Untuk Bersama, dan Hikmah. 

  7. Zat Kehidupan: Lembah Mimpi, Koper Patah, Ibu Kota, Hingga Akhir, Melodi Tanah Rantau, Gang Sempit Punya Cerita, Cerita Nasi Kuning, Cerita Musim Semi, Menanti Nyata, Riak Keindahan, dan Gadai Mimpi

  8. Molekul Rasa: Mencari Arah, Rumah Gadang (Rumah Besar), Suatu Pagi di Monas, Sepotong Dunia, Deru Keyakinan, Sebait Rindu, Kepingan Rasa, Setapak Impian, Damba dalam Buai Duka, Bahagia Menanti, dan Segenggam Lara

  9. Pemujaan Logika: Pecel Ayam Jakarta, Pendakian Mimpi, Lakon Takdir, Tembang Negeri Tiran, Angin Musim Gugur, Merajut Kisah, Jalan terbaik, Lelah, Tekad Rindi, Kijang Jalang, dan Akhir Perjalanan. 

Terlebih lagi, kak Rindi menyajikan dua cuplikan puisi yang ada di dalam bukunya spesial untuk Janatti di Sesi TJI Book Review kali ini, yaitu:

 SEBARIS PERJALANAN USIA

 

Sendu kala malam beradu

Kuterima kabar duka darimu

Tak pernah sedikitpun kubayangkan

Selimut duka kau layangkan

 

Tertatih kakiku, merintih laraku

Sisa detik yang kita punya

Kala azan Magrib berkumandang

Sesaat sebelum engkau melayang

 

Ku tak tau cinta keberapa engkau dalam jiwa

Namun kuyakini pasti kau cinta sejati

Ku tak tau kapanlah masa kan bersua

Namun kuyakin pasti selalu dalam hati

 

Sisa-sisa angin duka terasa sesak

Menyimpan kenangan yang kita punya

Bersama kita semenjak ku masa kanak

Hingga tiada terasa kini kau menua

 

Padang, 8 Juli 2021

 

 ASA

 

Overthinking membuatku makin sinting

Di sekelilingku tatap hanya bergeming

Diamku dalam hentakan hening

Pusing tujuh keliling

 

Semoga yang sakit segera bangkit

Segala yang gundah segera indah

Tiada lagi fitnah-fitnah

Yang menyebar tak tentu arah

 

Susah memang namun bismillah

Jangan hanya gundah merekah

Namun pastikan jangan kalah

Percaya saja takkan lemah

 

Padang, 19 Juli 2021

Sungguh Indah bukan cuplikan Puisi dari kak Rindi ini? Jika Jannati  penasaran untuk membaca keseluruhan isi puisinya, silahkan order buku ini melalui Instagram @scarakaid. Semoga semua karya kak Rindy bisa menggugah hati Jannati untuk mencurahkan isi hati melalui puisi.




Kamis, 09 Desember 2021

Sering Diremehkan, Ternyata Peran Ayah Juga Penting dalam Parenting


 


Pada umumnya, hanya Bunda lah yang paling aktif dalam urusan pengasuhan anak. Tetapi, peran Ayah juga memiliki andil penting dalam perkembangan si Kecil. Sama halnya dengan yang dituturkan oleh kang Ugi, dalam TJI Sharing Session pada tanggal 3 September 2021. Terlebih, secara spesifik ia membahas Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak. Seperti apakah pembahasannya? Yuk, pahami lebih lanjut, Jannati!


Kang Ugi, sebuah nama pena bagi Sugianto. Pria kelahiran Jember, 05 Februari 1986. Tercatat sebagai lulusan FKIP Universitas Jember. Aktivitas utamanya adalah Certified Amil pada LAZ RIZKI, Ketua Forum Zakat Daerah Jember, dan blogger bertema parenting dan lifestyle.  


Poster TJI Sharing Session - Peran Ayah dalam Pengasuhan

Kang Sugi merupakan Alumni Blogging Class Batch 2, Alumni Kelas Caption IG dan Alumni Writing Class Batch 3. Di sela kesibukan yang padat masih tetap bisa menjalankan fungsi keayahan dan pengasuhan buah hati. Mari mengenal kang Ugi lebih dekat di Instagram @kangsugianto, dan blog: www.ayahugiparenting.com dan www.deevacollection.com



Ia juga sudah menerbitkan beberapa karya antologi cerpen, dan satu karya solo Novel berbasis aplikasi menulis. Baginya pengalaman menulis akan meninggalkan jejak kehidupan dan manfaat bagi orang lain. Menurutnya, menulis bukan untuk dikenal, tapi untuk menjadi bagian dari peradaban melalui literasi positif. 



Dalam TJI Sharing Session kali ini, kang Ugi mengawalinya dengan sebuah pertanyaan “Apa Yang dirasakan saat mengasuh anak dari lubuk hati yang paling dalam?”. Sontak banyak sekali yang menjawab lelah dan bahagia menjadi satu. 


 

Lalu, untuk pertanyaan selanjutnya “Selama dalam mengasuh anak, lebih sering merasa optimis atau pesimis?.” Tak disangka-sangka, ternyata banyak yang menjawab optimis tetapi seringkali merasa pesimis. Tujuan kang Ugi menanyakan ini adalah untuk menyadarkan  para orang tua agar menjadi pengasuh yang optimis, bukan pesimis. 



Mengapa demikian? karena selama ini ketika orang tua mengikuti seminar, pelatihan, ataupun sharing session lebih banyak menimbulkan pesimisme dari pada optimis. Misalnya, banyak yang merasa salah dalam mendidik anak. 



Bahkan, setelah acara selesai banyak yang mulai berpikiran bahwa selama ini tidak mempunyai ilmu parenting. Jika ini menjadi sebuah kesadaran untuk terus berbenah maka baik, lain halnya malah jika menjadi tidak semangat untuk mengasuh maka timbul pesimisme.



Secara mendalam, kang Ugi mencoba mengulik hal paling mendasar yang harus dibangun oleh Ayah dalam menjalankan peran pengasuhan. Salah satunya adalah Optimistic Parenting. Apa itu Optimistic Parenting? Secara harfiah, pengasuhan ini senantiasa dilandasi dengan keyakinan atau rasa optimis dari dalam diri sendiri. 



Seperti yang sering kita jumpai saat ini, terutama ketika Pandemi banyak yang memperlihatkan pesimisme dalam mendidik dan mengasuh anak. Mungkin salah satunya karena kemunculan ideologi childfree, dimana pasangan yang sudah menikah tidak memusingkan atau bahkan berniat memilih untuk tidak memiliki anak.



Pesimisme muncul karena peran ayah yang tidak nyata dalam pengasuhan bersama Bunda. 

Mengantar anak ke sekolah tugas Bunda, menanami semangat belajar tugas bunda, merawat anak sakit tugas bunda, urusan anak BAB tugas Bunda, semua diserahkan kepada Bunda.  



Akibatnya Bunda merasa stres, Bunda merasa beban dalam keluarga, beban pengasuhan ada pada dirinya. Sedangkan Ayah hanya berpikir, saya sudah bekerja. Seharian sudah capek dengan urusan kantor. Saya sudah mencari nafkah,dll. 



Dibalik semua itu, beban berat yang ditumpu para Bunda menimbulkan rasa pesimis. Apa saya bisa melalui semua ini? Apa saya bisa mengantarkan anak-anak kearah yang lebih baik, menjadi anak yang berakhlak, dan lain sebagainya.Ini muncul karena ayah tidak hadir tidak menjalankan peran.



Kembali kepada optimisme, membangun rasa optimis atau rasa yakin menjadi tugas utama ayah dalam mengasuh anak. Optimis disini adalah membangun pondasi dasar pendidikan anak, yaitu membangun keimanan, dan tauhid mereka. Sebagai orang tua harus mengantarkan anak menjadi anak yang cinta kepada tuhannya.



Tugas utama pelaku parenting adalah bagaimana memasukkan ruh keimanan kepada anggota keluarga, sehingga optimis untuk maju. Optimis untuk menanamkan keimanan, bahkan peran Ayah begitu besar, belajar dari Lukmanul Hakim, belajar dari Nabi Ibrahim A.S., belajar dari Imron, dan banyak lagi di Al Qur'an yang menunjukkan besarnya peran ayah dalam pengasuhan.



Ayah adalah perencana, Ayah membuat visi dan misi dalam keluarga. Untuk menjalankan atau mewujudkan visi-misi itulah butuh kerjasama yang kompak dengan Bunda. Ayah perlu duduk bersama, sampaikan pada bunda bagaimana untuk mencapai visi itu.Saat Ayah bekerja, Bunda bisa ikut menjalankan. Jika semua Ayah mempunyai peran dalam pengasuhan, maka akan tercipta keluarga yang tangguh.



Pada masyarakat umumnya, tugas Ayah hanya semata-mata memberi nafkah kepada keluarga. 

Pendidikan sekaan jadi tugas guru dan ustadz. Ketika sudah dilakukan. Seakan sudah beres semua. Kenyataannya ketika anak semakin besar, kita merasa ada sesuatu yang kurang. Tidak sesuai dengan yang diharapkan orang tua


Lalu, bagaimana caranya agar para Ayah bisa sadar dengan perannya? Kang Ugi memiliki tips agar biar para Ayah mau diajak untuk belajar ilmu parenting: 


1. Pahami ayah terlebih dahulu, kalau belum mau tidak apa-apa, jangan dipaksa.


2. Terapkan hasil belajar parenting kita di rumah. Pasti suami akan bertanya, "kok ada yang ga biasa ya?." Bisa jadi mereka akan mengajak ngobrol.


3. Jika suami lagi menemai anak, boleh sekali untuk memberi apresiasi.




Di akhir sesi, kang Ugi merangkum poin-poin terpenting dalam parenting, yaitu:


1. Yakinkan bahwa Allah memberikan amanah kepada yang kompeten. Orang tua  adalah manusia kompeten, lebih kompeten dari siapapun, khususnya kepada anak sendiri.


2. Membangun kepercayaan diri. Selama ini kita sering merasa tidak mampu, tidak punya ilmu. Kenyataannya kita mengerti banyak, memiliki banyak ilmu, Namun tidak menyadarinya.


3. Jadikan diri sebagai sasaran pertanyaan. Untuk para ayah jadikan diri sasaran pertanyaan diri, dan anak. Biarkan kita di bombardir pertanyaan sehingga ilmu kita bisa keluar. Kita akan belajar saat tidak tahu. 


4. Kalau meyakini sesuatu jangan tanggung, jangan ada sedikit keraguan



Demikian peran Ayah dalam pengasuhan anak menurut Kang Ugi. Semoga bermanfaat dan membantu Jannati dalam menyadarkan Ayah untuk ikut serta mempelajari ilmu parenting. Pada kenyataannya, Ayah yang romantis bukan hanya sekedar memberi bunga, tetapi mengasuh anak bersama juga merupakan hal yang romantis.


Minggu, 05 Desember 2021

Cerita Couple Goals Versi “Hello Motion Couple Goals”


 


Impresi apa yang muncul ketika Jannati mendengar istilah ‘Couple Goals’? Istilah couple goals muncul untuk menyebutkan pasangan yang tampak mesra dan akrab di depan publik, sehingga layak dijadikan panutan. Namun kenyataannya tidak selalu indah seperti itu. Oleh karena itu, simak salah satu versi couple goals yang dibahas oleh TJI Book Review ini, Yuk!

 

Pada hari Jumat, 10 September 2021, di salah satu sesi TJI Book Review yang berkesempatan untuk mengulas buku yang berjudul “Hello Motion Couple Goals.” Tidak seperti Couple Goals pada umumnya, Couple Goals yang dibahas dalam buku ini menceritakan kisah suami istri yang menjalankan bisnis bersama atau Couplepreneur.

 

Poster TJI Book Review - Hello Motion Couple Goals

Buku Hellomotion yang ditulis oleh Wahyu Aditya dan Arie Octaviani tidak membahasa cara, langkah–langkah atau tips–tips mewujudkan couple goals. Namun secara Lebih mendalam, buku ini bercerita soal understanding couple, passion, dan working together.

 

Cover Buku "Hello Motion Couple Goals"

Wahyu dan Arie adalah pasangan yang sukses mewujudkan couple goalsnya, sebab  HelloMotion itu sendiri merupakan usaha yang mereka bangun bersama. HelloMotion merupakan perusahaan yang bergerak di bidang design kreatif yang didirikan oleh Wadit, sapaan akrab wahyu Aditya.

 

Pada mulanya, Arie sang istri bekerja di sebuah stasiun televisi ternama. Dan pada satu kesempatan, Arie memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya itu. Beragam pertimbangan yang muncul dibenaknya saat Wadit, suaminya menawari istrinya untuk bergabung dengan usaha yang sedang dibangunnya itu.

 

Disaat itu Arie ragu karena banyak yang beranggapan jika bekerja di satu tempat dengan pasangan, efek panas dinginnya bisa berimbas ke rumah tangga.  Lantas ia pun mencoba menerima tawaran suaminya itu. Benar saja, dalam buku ini mereka diceritakan bahwa,  mereka sering bertengkar ketika membahas pekerjaan.

 

Tak jarang suatu permasalahan di kantor bisa terbawa sampai kerumah. Tetapi kenyataanya rumah bisa membawa atmosfer ketenangan yang mampu memunculkan rem untuk berhenti membahas permasalahan di kantor.

 

Hal ini didukung dari salah satu kutipan yang ada di buku “Kami tidak pernah merasa takut untuk berbeda pendapat dan memperjuangkan pendapat masing-masing. Karena kami sama – sama sadar bahwa apa yg kami perjuangkan tidak lain untuk kemajuan usaha yang sedang dijalani.”

 

Kedua pasangan ini memiliki pribadi yang unik. Wadit seorang laki laki yang terlahir dengan kesukaan pada seni gambar. Meski selama sekolah seringkali pelajaran seni diremehkan, hanya dua jam pelajaran setiap minggunya. Namun selama dua jam pelajaran seminggu itu, Wadit merasakan kebahagiaan tersendiri.

 

Pendeknya jam pelajaran seni tidak menyurutkan semangat Wadit untuk menekuni apa yang dia senangi. Karena seni adalah kebahagiaannya. Semacam ada emosi mendalam saat ia mampu menghasilkan karya seni.

 

Kecintaannya pada dunia seni terutama pada seni gambar membuat Wadit melanjutkan pendidikan tingginya pada salah satu universitas di Sydney. Di universitas ini ia ditempa oleh Profesional dibidangnya. Setiap perkuliahannya dihadapkan langsung pada layar komputer. Mata kuliah hari itu langsung dipraktekkan dan menghasilkan karya.

 

Berbeda dengan pendidikan yang ia jumpai di Indonesia. Dia pernah mencoba iseng ikut masuk kelas temannya. Dia mendapat dongeng sepanjang perkuliahan padahal untuk mata kuliah dengan jenis yang saat itu ia ikuti, akan jauh lebih efektif jika menggunakan metode pembelajaran yang bersifat teknis ketimbang sekedar teoritis.

 

Sekembalinya dari pendidikan yang ia tempuh di Sydney, dia mencoba membuat portofolio untuk mendapatkan pekerjaan. Beragam perusahaan ia tawari. Ada yang langsung menolak, ada pula yang malah keder menerima Wadit karena menurut perusahaan tersebut Portofolionya terlalu Bagus.

 

Hingga pada satu ketika, ia mendapat email dari salah satu stasiun televisi yang tertarik dengan karya-karya Wadit. Dengan segenap pertimbangan, Wadit mencoba bergabung dengan stasiun televisi tersebut.

 

Tidak putus asa, dia mencoba kembali mendirikan hal yang sama dengan nama yang berbeda dengan menciptakan HelloMotion. Dia tetap mendirikan sesuatu yang bergerak dibidang yang ia sukai. Gampangannya, ia mampu menghasilkan uang dari apa yang disukainya  adalah kebahagiaan tersendiri.

Serangkaian Produk dari HelloMotion

Tidak hanya itu. Dengan memiliki usaha sendiri itu, ia bisa bahagia berkarya, mencukupi kebutuhan rumah tangga dan yang paling penting, bisa sering dekat dengan keluarga.

 

Lalu Keputusan Arie untuk bergabung dengan HelloMotion membawa perubahan signifikan pada proses bisnis HelloMotion. Terutama pada tataran manajerial dan keuangan. Arie melihat ada yang tidak beres dengan perusahaaan yang selama ini dikelola oleh suaminya itu.

 

Wadit seringkali menelorkan ide-ide emas, namun dibelakang itu ternyata terdapat eksekusi yang kurang baik. Seperti saat melahirkan HelloMotion Academy, lahirnya ide HelloMotion Academy berhasil membuat Wadit berada di posisi atas dan mendapat sambutan yang bagus dari rekan kerja juga testimoni yang bagus dari murid–murid HelloMotion Academy.

 

Tetapi dibalik itu, ada ketidakjelasan perencanaan. Seperti tujuannya, langkah apa yang harus dilakukan supaya tujuannya tercapai, lama waktu pengerjaannya, besaran biaya yang dikeluarkan. Jika dibiarkan, tentu ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup perushaaan. Di sinilah peran besar Arie sangat dibutuhkan.

 

Kreatifitas Wadit yang tak terbatasdan selalu muncul kapan saja membuat  Arie memasang kuda-kuda di ranah manajerial. Alhasil, Wadit terfokus pada urusan kreatifias, Arie menentukan mana karya kreatifitas Wadit yang layak untuk perusahaan atau hanya buah dari keisengannya saja.  kontrol kualitas dibawah Arie membawa HelloMotion menapaki puncak kejayaannya.

 

Bagi Arie, membantu Wadit adalah Passionnya. Dia menyadari potensi yang dimiliki oleh Wadit, juga mengetahui titik kelemahan Wadit. Arie mencoba menagkap potensinya, kemudian mengelolanya menjadi lebih cantik.

 

Hal ini didukung dari salah satu kutipan Arie yang ada di buku “cita – citaku adalah membantumu meraih kesuksesan. Aku Ingin Melihatmu berhasil”


Bersama–sama membangun bisnis tidak membuat mereka lupa peran utamanya sebagai Orang tua. Wadit dengan kemampuan gambarnya, sering menggunakan metode bercerita dengan gambar untuk mendidik anak – anaknya. Lalu Arie menyiapkan masa depan anak– anak dengan mengelola keuangan keluarga secara bijak.

Cuplikan Buku "Hello Motion Couple Goals"


Tiada jalan yang mulus. Pasti ada kerikil, batu, cekungan, gelombang naik turun, belokan terjal dalam perjalanan kehidupan. Wadit dan Arie selalu berusaha menikmati apa yang bisa dinikmati. Mensykuri jalan Tuhan yang disuguhkan.  Memaksimalkan yang dimiliki. dan Mengelola yang ada.


Mereka membuktikan bahwa profesionalitas antara suami dan istri tetap ada di ranah pekerjaan. Salah satu tips mereka adalah tidak membawa urusan perbedaan pemikiran di kantor sampai ke rumah. Selebihnya mereka bercerita setiap ada permasalahan di kantor, dan butuh diskusi panjang hingga panas lansung redam ketika melihat anak dirumah.


Sungguh indah sekali bukan, Jannati? Couple Goals seperti apa yang diimpikan oleh Jannati? Silahkan berkomentar dibawah, ya!


Kamis, 02 Desember 2021

Indahnya Menjadi Minoritas Muslim di Negara Mayoritas Non-Muslim



Pernahkah Jannati memimpikan hidup di luar negeri? Lalu bagaimana hidup menjadi muslim di negara yang mayoritas non-muslim? Pada tanggal 1 Oktober kemarin, TJI Sharing Session menghadirkan seorang narasumber yang sudah pernah tinggal di berbagai macam negara. Simak pengalamannya, yuk!

Sebelum menceritakan pengalamannya, lebih baik untuk mengenal Narasumber terlebih dulu. Beliau adalah Rohmah Rahmawati, biasa dipanggil Rohmah. Ia lahir dan besar di Jakarta, tetapi sekarang berdomisili Ankeny, lowa, USA. Aktivitas sehari-hari beliau adalah sebagai Ibu rumah tangga dengan satu anak yang saat ini berusia lima tahun.

 

Poster TJI Sharing Session - Emak Rantau Melintasi Tiga Benua

Selain itu, beliau juga akftif berkegiatan online sebagai mahasiswa dan kepala cabang Kipma Efrimenia di Komunitas Ibu Profesional. Terlebih lagi ketertarikannya dalam bidang kepenulisan yang membuatnya menghasilkan karya 15 buku antologi. Beliau juga menekuni hobinya dalam memasak dan quilting.

Sebelumnya, mba Rohmah sudah pernah berangan-angan untuk tinggal di luar negeri dan menikah dengan WNA. Ajaibnya, saat ini beliau hidup di luar negeri dengan suami yang merupakan Warga Negara Amerika. Indah sekali ya bisa hidup di dalam mimpinya sendiri, Jannati!


Setelah itu beliau kembali ke Jakarta, sementara suaminya pindah ke Kuwait. Ia belum bisa ikut Suami ke Kuwait karena belum ada visa pada saat itu. Jadi, mba Rohmah menjalani Long Distance Marriage selama 7 bulan hanya untuk mempersiapkan visa.

Penantian Panjang mba Rohmah membuahkan hasil, hingga akhirnya ia menetap di Kuwait, dan melahirkan putra semata wayangnya, yaitu Ismail.

Setelah tinggal di Kuwait selama setahun, mba Rohmah dan suami berpindah lagi ke Marocco, suaminya ingin melanjutkan studi di Universitas Islam di sana, tetapi terhalang proses administrasi yang merepotkan. Lalu, berpindah lagi ke Sudan karena suaminya melanjutkan studi disana, hingga akhirnya mendapatkan beasiswa ke Madinah.

Alhasil, suaminya melanjutkan studinya ke Madinah, dan mba Rohmah kembali ke Jakarta. Sehingga mba Rohmah dan suami menjalani Long Distance Marriage lagi selama setahun. Tetapi, pada akhirnya sang suami memutuskan untuk kembali ke USA dan melepas Madinah dengan alasan lebih baik hidup bersama keluarga.

 

Walaupun suami mba Rohmah memiliki impian untuk studi di Universitas Islam, tapi suaminya tak tega hati untuk meninggalkan istri dan anaknya. Sang suami lebih mementingkan menjalani peran sebagai suami dan ayah dibanding merantau sebagai pelajar. Setidaknya dia sudah mencoba untuk mencapai impiannya tersebut, ujar mba Rohmah.

Pengalaman mba Rohmah yang paling berkesan adalah ketika ia hidup di Kuwait, karena beliau bisa menikmati fasilitas muslim dan banyak teman sesama muslim atau Indonesia disana. Menurutnya, setiap tempat punya sisi baik dan buruk. idak ada yg sempurna, begitu pun sebaliknya.


Hal ini berlaku ketika mba Rohmah tinggal di Kamboja dengan mayoritas penganut Budha. Namun ia tinggal di lingkungan Muslim berbarengan dengan sesama muslim lainnya. Sehingga ia mudah menemukan mushola, dan restoran halal.

Beliau juga menambahkan, di kota Phnom Phen sendiri sudah banyak restoran halal dan terdapat masjid besar, karena kota tersebut adalah kota pariwisata yang banyak dikunjungi turis dari berbagai macam negara, seperti Indonesia, Malaysia, Mesir, Kuwait, Arab Saudi, dan negara lainnya.

Saat tinggal di Kamboja, mba Rohmah tidak pernah mendapatkan diskriminasi, karena di negara tersebut sudah banyak Muslimah yang memakai tutup kepala/hijab pendeknya saat bersekolah di sekolah umum. Sedangkan untuk di pedesaan sudah banyak sekolah khusus muslim.

 

Selain pernah tinggal di lingkungan muslim, mba Rohmah juga mendapatkan kemudahan dalam mengakses fasilitas muslim, karena di KBRI Indonesia juga banyak yang muslim. Sehingga ada kegiatan khusus muslim. Saat itu, beliau mengikuti pengajian mingguan dengan ibu-ibu dari KBRI.


Namun, dari banyaknya pengalaman mba Rohmah melanglang buana ke berbagai benua, tentu saja tidak hanya merasakan hak istimewa sebagai muslim. Tetapi ia juga pernah mengalami susahnya hidup menjadi muslim, seperti ketika beliau tinggal di USA yang jarang sekali ditemukan sesama muslim, masjid ataupun makanan yang halal.

Untuk menyiasati kesulitan tersebut, mba Rohmah memiliki caranya tersendiri untuk menjalani hidup sebagai muslim di negara minoritas, terutama dalam hal memilah-milih makanan yang halal.

Menurutnya, untuk makanan halal di negara non-muslim sebenarnya kita bisa memilih untuk full Halal atau ambil keringanan. Selama tinggal di tempat non-muslim dan sulit menemukan penjual makanan halal, maka kita bisa memakan makanan tersebut dan dikembalikan ke hukum asalnya.

 

Misalnya jika ingin memakan daging sapi atau ayam, hukumnya yang halal adalah ketika di sembelih secara islami. Namun jikalau tidak ada atau tidak memungkinkan untuk membeli daging tersebut, kita bisa membelinya di toko umum daging sapi atau ayam. Asalkan hukumnya daging tersebut halal untuk dimakan.

Lalu, untuk makanan olahan kita harus paham campuran atau prosesnya bagaimana agar tidak bercampur dengan bahan makanan haram, seperti babi serta urunannya, alkohol, dan bahan lainnya yang berbahaya

 

Mba Rohmah sudah belajar banyak hal mengenai adaptasi atau penyesuaian diri dengan beberapa tata cara ibadah yang agak berbeda, karena perbebdaan mazhab. Tentu saja hal ini tidak menjadi kendala untuk mba Rohmah. Di tambah ia dan suami memiliki jiwa petualangan, sehingga lebih mudah untuk mereka berdua beradaptasi dengan budaya baru.

 

Selain urusan memilih makanan halal dan beradaptasi dengan budaya yang baru, mba Rohmah juga memiliki trik khusus untuk berpindah-pindah. Menurutnya, bawa barang yang hanya di perlukan saja. Jika bisa dibeli di negara setempat, tidak perlu membawanya lagi. Lalu jika ingin pindah lagi, hibahkan barang yang sudah di beli tersebut kepada teman.

 

Walaupun mba Rohmah termasuk orang yang apik dalam menjaga barang, ia tidak mau begitu berat untuk melepaskan tersebut. Pada akhirnya semua itu hanya urusan dunia yang akan kita tinggalkan, termasuk melepaskan keluarga di Indonesia. Mba Rohmah sudah bersiap diri jikalau tidak ada umur dan tidak bisa berjumpa lagi.

 

Semua kesulitan yang sudah dialami oleh mba Rohmah tetap ia jalani dengan senang hati, karena semua ini adalah bagian dari impiannya yang sudah diwujudkan oleh Allah. Sehingga ia harus menerima konsekuensi dari mimpinya, dan belajar untuk menikmati semua kerepotan yang ia alami. Mashaallah sekali ya, Jannati?



Minggu, 28 November 2021

Bertransaksi dengan Allah, Hal Baik atau Buruk?





Tahukah Jannati, hal lain yang mempermudah jalan kita adalah keikhlasan dalam menyerahkan hal duniawi kita kepada Allah. Ada yg berserah dengan kepasrahannya, perjuangannya, keikhlasannya, atau mendekatkan dirinya dengan al-Quran. Dengan kata lain, kita bertransaksi dengan Allah.

Pengertian tersebut merupakan cuplikan dari acara mingguan TJI Book Review yang berjudul “Nota Kontan untuk Tuhan” yang diadakan pada hari jumat, tanggal 24 September 2021 lalu.

 

Buku ini di ulas oleh seorang dokter, beliau bernama Lutfir Rahman Taris, selain menjadi seorang dokter Umum di RSD Soebandi, beliau juga berprofesi sebagai ahli tenaga Lab Parahita di Jember. Dr. Lutfir pernah menerbitkan dua bukunya, yaitu Kutemukan Cinta-Mu, dan Survive for Life.

 

Poster TJI Book Review - Nota Kontan Untuk Tuhan

Penulis buku Nota Kontan untuk Tuhan sendiri adalah dr. Muhammad Syukri, dan dr. Shayma Karimah al Hafidzah. Kedua penulis tersebut adalah sepasang suami-istri alumni Universitas Sebelas Maret, Solo. Selama di bangku kuliah, Dr. Syukri dan Dr. Shayma merupakan aktifis kampus dan sama-sama penerima beasiswa Dompet Dhuafa.

 

Dr. Syukri berasal dari Kediri, beliau pernah menjadi ketua UKM kerohanian FK dan ketua FSLDK se Indonesia. Ia Juga pernah menulis buku berjudul Hidup Sekali Jangan Merugi. Sementara Dr. Shayma pernah menjadi Hafizhah, sehingga  beliau pernah menjadi Wakil Ketua komunitas Qur’an di UNS

 

Buku ini berangkat dari sebuah kejadian kecil. Waktu itu, ada seorang mahasiswa kedokteran yang hidup dengan uang bidik misi datang ke penulis. Dia menyerahkan sebagian uang bidikmisinya yang baru turun untuk diberikan ke anak yatim. Penulis bertanya, "Lalu kamu bagaimana?" Dia hanya tersenyum.

 

Cover Buku "Nota Kontan Untuk Tuhan"

Sekian waktu berlalu, dia ternyata berhasil berangkat ke luar negeri untuk pertukaran pelajar. Waktu dia tanya "Kok bisa ya saya ke luar negeri?" Penulis ingatkan dia tentang uang yang dia berikan pada anak2 yatim itu. Mungkin saat dia serahkan uang itu, dia merasa tidak sedang terjadi apa2.

 

Tetapi dia lupa, dia sedang bertransaksi dengan Tuhan. Tuhan mencatatnya, dan akan membayarnya dengan bayaran berlipat. Itulah yg namanya transaksi. Dimana setiap transaksi ada nota nya, dan setiap lembar nota itu tuhan tuliskan "surga" di kolom harga.

 

Berangkat dari situ lah, penulis ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa hidup kita ini sebenarya akan selalu berkutat dengan transaksi2. Maka pilihannya hanya dua: transaksi dengan tuhan, atau transaksi dengan keburukan?

 

Setiap transaksi itu memerlukan keyakinan yg penuh bahwa Allah benar2 akan membayar nota yg dia serahkan saat transaksi sedang terjadi. Dan setiap transaksi itu akan selalu menghadirkan "surga" yg berbeda-beda, dan selalu unik.

 

Maka buku ini mengajak kita berfikir kembali, sudahkah kita bertransaksi dengan tuhan kita, sehingga kita layak dihadiahi "surga"?

 

Pada nota keikhlasan terdapat ustadz yang dengan ringan hati berangkat dari sekitar jam 3 pagi untuk berdakwah. Pesertanya adalah mahasiswa. Waktunya setelah Shubuh di mana perjalanan dari rumahnya memakan kurang lebih satu jam. Tidak ada perjanjian imbalan sebelumnya.

 

Bisa dibayangkan pesertanya sudah lelah berkegiatan semalaman dan disuruh bangun pagi untuk mendengarkan ceramah, maka di bayangan kita pesertanya mesti banyak yang ngantuk atau malah tidur. Ustadz tersebut tak banyak berpikir untuk mengiyakan kesempatan dakwah itu.

 

Selesainya, ketika ustadz dikasih uang transportasi, maka uang itu dikembalikan cuma-cuma. Beliau bilang untuk panitia sebagai tambah-tambah. Cerita dalam KKN, seleksi beasiswa, dan kepanitiaan juga mewarnai nota keikhlasan

 

Dalam nota kepasrahan, ada cerita mahasiswa semester akhir yang "bertarung" untuk skripsinya. Dia lebih "mendahulukan tuhannya" dari pada logikanya. Mendahulukan shalat dhuha dari pada berburu tanda tangan untuk skripsinya. Padahal hari itu adalah deadlinenya.

 

Singkat cerita dia membutuhkan 5 tanda tangan di hari itu dan deadlinenya hari itu juga, kalau tidak akan mundur skripsinya. Jalan cerita berbicara, kedua pengisi kuliah pulang lebih cepat. Ketika dia menelpon salah satu pembimbingnya dan menemuinya, maka bersama pembimbing itu ada pembimbing dan penguji skripsi juga. Dimudahkan dalam satu waktu, tidak terpikirkan sebelumnya.

 

Cuplikan Buku "Nota Kontan Untuk Tuhan"

Cerita lainnya dalam nota kepasrahan tentang impian masuk kuliah kedokteran, impian mengikuti seminar, cerita persalinan, dakwah melawan kemungkaran, dan pukul 25.00 sebagai waktu yang "tersisakan"

 

Lebih tepatnya, Jam ke-25 adalah kumpulan waktu-waktu luang yang bisa dimanfaatkan, contohnya adalah waktu menunggu pesawat, waktu menunggu antrian, waktu perjalanan dari rumah ke tujuan. Dalam waktu tersebut Jannati bisa memanfaatkannya dengan perbanyak berdzikir kepada Allah.

 

Lalu, penulis menambahkan tips lain untuk mempermudah atau mempercepat hidup Jannati dengan sumber daya dari Allah, diantara-nya adalah:

 

1. Istigfar (Nuh: 10-12)

2. Shalawat (Al Ahzab: 56)

3. Tahajud

4. Dhuha

5. Doa (Al baqarah: 186)

6. Doa orang tua

 

Jika hal yang wajib kita tunaikan kepada Allah sudah beres, maka hal-hal sunnah yang kita kerjakan tentu akan mempermudah hidup kita.

 

Penulis menekankan itu semua (yang hukumnya sunnah) akan berjalan jika yang wajib2 sudah beres Diibaratkan amalan wajib itu membuat kita berdiri. Amalan sunnah itu membuat kita berlari kencang.

 

Mashallah bukan Jannati? Jika kita ingin urusan dunia kita dipermudah, utamakan lah urusan kita dengan Allah terlebih dahulu. Niscaya Allah akan melancarkan jalan kita. Diibaratkan amalan wajib itu membuat kita berdiri. Lalu, amalan sunnah membuat kita berlari kencang

 

Jika Jannati tertarik untuk membaca isi buku ini lebih dalam, kunjungi website https://ebooks.gramedia.com/id/buku/nota-kontan-untuk-tuhan berikut untuk mendapatkan info lebih lanjut.

 

Nah, dari pembahasan book review sebelumnya, apakah Jannati tertarik bergabung dengan komunitas yang mempunyai circle positif di dunia literasi?

 

Maka dari itu, Yuk bergabung dengan TJI Community! Jannati hanya perlu mengikuti salah satu kelasnya, lalu akan otomatis bergabung menjadi alumni TJI dan bisa rutin mengikuti kajian TJI Book Review tiap minggunya, menarik bukan, Jannati?



Kontributor: Fairuz Salsabila


#BookReview #BookReviewTJI #BukuInspiraso